"BURUK SIKUTAN"
Hi…
I love monday.…
It’s so fast time…
What do you think at this day?
Tak terasa ya, waktu berjalan begitu cepat. Baru saja Hari Senin kemarin, eh...sudah Hari Senin lagi.
Bagimana khabarnya pada hari ini…? Hari ini, saat ini aku lagi off…akh, leganya…
Setelah hari- hari Pemilu kemarin itu, kita seringkali disuguhi berita dan cerita tentang caleg yang stress. Caleg yang kembali menarik ‘gimmick‘ yang mereka berikan sebelum Pemilu. Pemberian yang ditarik kembali?
Jadi ingat cerita almarhumah ibu, itu namanya ‘buruk sikutan‘.
Dulu, pertama kali dengar istilah itu juga aneh. Kupenggal kalimat itu dengan dua kata : buruk dan sikutan. What is the relationship…?
Buruk dalam artian harfiah : sesuatu yang tidak baik. Ya buruk itu!
Sikutan. Terdiri dari sikut dan akhiran an. Sikut bisa diartikan sebagai bagian engsel lengan kita yang menjadikan lengan kita bisa menjadi bergerak fleksibel ke atas, ke bawah dan sedikit ke samping kiri dan kanan. Akhiran an sebagai penguat.
Lantas, kenapa bisa dijadikan sebagai idiom untuk menyatakan orang yang ‘menelan kembali ludahnya sendiri‘. Kondisi yang memalukan. Kondisi yang seharusnya tak pantas untuk dimiliki seorang yang baik. Apalah lagi sekarang banyak yang dilakoni oleh para caleg yang stress itu.
Mungkinkan pemberian yang telah diberikan bisa bersifat fleksibel dalam bentuk barang (materi) yang sama…? Fleksibel seperti dalam arti sikut itu lho, memberi dan kembali diambil. Fleksibel khan…
Pemberian fleksibel…
Seharusnya pemberian diiringi dengan ketulusan hati. Sehingga ‘fleksibel‘ yang diharapkan bukanlah dalam bentuk materi apalagi bentuk barang yang diberi tadi. Ada hal nonmateri yang jauh lebih hakiki dan mengetuk jauh ke dalam hati manusia yang diberi dan kita semua. Itu jauh lebih besar nilai ‘fleksibel’nya. Nilai yang selalu saja menjadi dambaan setiap orang yang memberi. Sebuah nilai kepuasan yang tentu saja tak kan bisa dinilai dengan materi. Setiap kita bisa memilikinya. Setiap kita bisa mendapatnya bila kita memberi. Dengan catatan…hati yang tulus.
Mengapa harusa stress setelah begitu banyak memberi…? Seharusnya semakin banyak nilai kepuasan yang didapat, bak seperti orang yang orgasm tentunya, karena begitu banyaknya pemberian yang diberikan.
Kenapa pula harus buruk sikutan seperti itu…
Happy work at Monday…
Start with a smile…!

