D E M O

Berawal dari ketidakpuasan yang tak kunjung terlampiaskan. Semakin hari kian menggunung dan akhirnya meledak juga akhirnya.

Begitulah yang terjadi dua hari yang lalu di tempat kerja. Sang Big Boss di dera hujan kritik dan demo karyawannya!

Bekerja dalam sebuah ruang yang melibatkan banyak orang terlibat di dalamnya, mengharuskan seorang pemimpin yang berjiwa besar untuk menghadapi berbagai macam konsekuensi yang mungkin timbul. Pun begitu di tempat kerjaku yang mempunyai karyawan hampir 1000-an karyawan.

Berbagai perbedaan dan aspek yang muncul setiap ada kesempatan seharusnya Sang Big Boss bisa memberikan umpan balik kepada karyawan yang membuat sang arus bawah tersadar bahwa kami patut juga untuk di hargai bukan hanya sebagai ‘sapi perahan‘! Namun hal itu tak juga terlihat. Kesan arogan begitu kentara. Sikap yang begitu menjaga jarak dengan karyawan. Bahkan dalam beberapa kesempatan terbuka, Sang Big Boss juga mengeluarkan kata-kata serapah yang, rasanya, tak patut sama sekali di ucapkan. Memalukan! Yah, kami para karyawan pun rasanya malu mempunyai atasan yang seperti itu. Kian hari ‘tabungan‘ keburukan itu kian penuh sesak hingga ‘celengan‘ itupun meledak sendiri.

Penggalangan massa karyawan pun muncul dan akhirnya menghamburkan kesempatan untuk bicara heart to heart. Terasa anarkis memang, tapi lebih baik begitu. Kesempatan terbuka dan akhirnya menjalar ke berbagai lorong yang telah begitu lama hendak di ungkapkan. Tunjangan karyawan yang selalu tertunda. Tunjangan gaji yang lelet tak terbayar sejak tahun 2006 dengan dalih selisih. Ufh, selisih koq ya sampai bertahun-tahun! Kata-kata serapah yang memalukan. Hingga akhirnya lorong lain yang tak tersentuh sebelumnya pun mengemuka.

Sang Big Boss murka. Tapi apa lacur. Semua orang sudah tahu. Koran. Televisi. Radio. Semua mengangkat cerita memalukan itu untuk terdengar publik.

Mengapa harus menunggu gunung itu meledak dan mencoreng wajah sendiri…?
Haruskah mendengarkan ‘arus bawah’ melalui suara yang berteropong nyaring hingga menyebar ke seantero wilayah…?
Begitu ‘tuli’ kah sang pemimpin…?
 

Leave a Response