NATIVE FRUIT : CEMPEDAK

Sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk berburu beberapa jenis buah khas yang lagi musim berbuah. Khas, karena buahnya jarang sekali di jual sepanjang tahun, misalnya tak seperti buah apel atau mangga yang sepertinya ada terus sepanjang tahun. After to give you serviced….

This time is the best choice to get native fresh fruit like a cempedak, memang lagi ramai . Dalam bahasa urang Samarinda, disebut dengan tiwadak (Banjar) atau toda’ (kutai).

Buah berbau menyengat and deliciously harum ini dapat dengan mudah didapat sepanjang tepian Sungai Mahakam. Katanya sih buah nya berasal dari Ulu Mahakam, maksudnya daerah pedalaman Kalimantan yang memang masih banyak memproduksi tanaman musiman ini.

Saat ini, satu buah cempedak yang berukuran sedang, biasa-biasa saja, aku bisa menukarnya dengan harga dua puluh ribu. Lumayan juga yaaa. Untuk ukuran jumbo, harga yang ditawarkan mencapai 40 ribu sampai 50 ribu perbuahnya. Wooouw..it’snot a cheap yeah…

Hmmmm, rasa buah cempedak yang khas benar-benar mengundang seleraku. Aku lebih suka menikmati cempedak ini dalam kondisi ‘fresh fruit‘. Lebih terasa buahnya dan enak banget euy!

Untuk satu buah ukuran sedang saja, aku rasanya tak sanggup untuk menghabiskannya. Karena isteriku yang kurang suka makan cempedak dalam kondisi semacam itu, jadi dibuat sanggar cempedak.Buah cempedak yang di goreng dengan selaputan tepung, seperti pisang goreng! Hmmm, delicious juga lho..!


But one message yang kuingat dari orang orang tua kita tentang buah cempedak ini, hati-hati dengan penderita maag ( tukak lambung ) saat makan dalam keadaan ‘fresh fruit‘ Dapat kambuh penyakit maag nya.

Memang, aku juga merasakan, setelah makan buah cempedak, perut rasanya ‘penuh‘ dan gampang untuk buang angin. Tapi saat aku makan ini, tidak sampai timbul enek

Did You Know:

“Sesekali nikmati hidup dengan memberikan kebebasan untuk mengambil keputusan ringan dalam hidupmu…tersenyum lah untuk apapun hasil yang didapatkan…”

Leave a Response