"HALLO BU NGGAK PENTING…"
Di tempat kerjaku ada seorang ibu paroh baya yang menjadi Cleaning Service. Gayanya lincah. Tanggap. Cara bicaranya pun, menurutku berbeda dengan petugas cleaning service yang lain. Namun sedikit agak sombong. Pada suatu kesempatan, baru sekali itu aku dapat berbicara dengan sedikit santai dengan ibu yang satu ini.
Ternyata, beliau dulunya adalah staf administrasi di sebuah perusahaan kayu yang besar dan sudah kolaps di wilayah Samarinda. Oh, pantesan saja beda, pikirku, tak seperti petugas yang lainnya.
Dan hari itu, aku menanyakan siapa nama beliau. Dan aku juga kaget mendengar tanggapannya.
“Akh, nama….nggak penting…!”
Hah…? Jadi namanya “nggak penting…?”
Dari nada suaranya, jujur aku kurang suka dengan tanggapan semacam itu. Kenapa…? Apakah orang tak boleh lupa…? Apakah dia tersinggung…? Entahlah.…
Sejak itulah, aku memanggil nama ibu sang cleaning service itu dengan sebutan ‘nggak penting‘ setiap kali aku menyapanya. Tanggapannya hanya tertawa saja.
Walaupun saat ini aku sudah tahu namanya, dari teman di tempat kerjaku yang lama, tetap saja aku memangggilnya dengan sebutan itu.
Kenapa harus malu dengan nama sendiri…? Aku menganggapnya begitu. Tidak penting bagaimana? Di dalam Islam, istilah panggilan nama dengan dhammir itu penting! Bahkan sangat penting.
Orangtua kita memberi nama dengan nama yang sekarang ini tentunya dengan harapan sang buah hati mendapatkan keberkahan (kebaikan) dengan nama yang diberikan. Nama yang indah. Nama yang menjadi doa untuk setiap detak jantung hirupan nafas. Yang membuat orang menjadi berbeda dengan yang lainnya. Bahkan bukan hanya itu, nama menjadi kebanggaan dalam sebuah keluarga.


