RUMAH SAKIT PEMERINTAH (DALAM PERSFEKTIF YANG BERBEDA)

Rumah sakit umum pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam siklus sosial kesehatan masyarakat di Indonesia. Secara konsep, misi, visi dan tujuan Rumah Sakit Umum Pemerintah terlihat dan terdengar ‘indah’ bila membaca dalam dokumen lembaran resmi yang ada. Dalam faktanya, bukan hanya aparatur yang ada di dalamnya yang mempunyai kinerja yang standar khas pegawai negeri sipil, namun juga banyak sekali unsur lainnya yang membentuk dan membuat institusi ini menjadi sumber kritikan masyarakat dan konsumen yang memakainya. Keluhan mulai kebersihan, sikap karyawan/petugas pelayanan, managemen rumah sakit yang bertele-tele, hingga mutu dan kualitas obat yang diberikan kepada pasien sebagai konsumen.

Dari sudut pandang masyarakat awam, berbagai keluhan ini merupakan ‘cap’ biasa dan lumrah pada berbagai tipe Rumah Sakit Pemerintah. Berbeda pandangan yang diberikan kepada Rumah Sakit Swasta. Mungkin bila diambil sebuah lingkaran kepuasan, maka berbalik 180 derajat.

Rumah sakit pemerintah sering berkonotasi negatif. Namun fakta yang ada dapat merupakan ‘sanggahan’ yang real. Orang tak harus berkomentar atau membalas tudingan negatif tersebut. Jika memang pandangan negatif itu benar-benar terbukti 100 persen, maka kita dapat melihat sebuah fakta yang sinergis bahwa Rumah sakit pemerintah kurang bahkan tidak ada pasiennya. Ini sebuah asumsi awam juga bukan…? Namun fakta bicara lain. Rumah sakit pemerintah justru sering ‘kebanjiran’ pasien. Dalam aturan tertulis yang ada ‘Rumah Sakit Pemerintah dilarang menolak pasien yang ingin dirawat/diopname dengan alasan apapun’…Nah, jadilah lorong dan selasar Rumah Sakit ruang perawatan pasien ‘kelas teri’, mungkin kasarnya bisa disebut begitu. Ini lebih baik barangkali dibandingkan harus dibawa pulang ke rumah, tanpa ada tindakan medis dan keperawatan yang diperlukan. Atau jika berpikir lebih gengsi lagi, ke rumah sakit swasta…? Nah, ini dia masalahnya : Uang! Mana mungkin dapat menebus biaya rumah sakit swasta yang tak terjangkau untuk masyarakat awam kebanyakan yang umumnya mengandalkan Asuransi Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (JAMKESMAS). Ini fakta yang lainnya, mungkin juga yang utama, bahwa Rumah Sakit Pemerintah tetap mempunyai banyak ‘penggemar’.

Jika memang benar demikian, maka mutu dan kualitas sebuah pusat layanan kesehatan tergantung dengan uang. Secara kasar begini, makin banyak uang yang dikeluarkan oleh konsumennya maka semakin bagus mutu dan layanan pusat layanan kesehatan. Maka, haruskah Rumah Sakit Pemerintah mengubah konsepnya menjadi…mungkin berpikir yang lebih profit oriented agar mendapatkan ‘cap’ yang baik di mata masyarakat…?

Bila kita mau bersikap sedikit lebih bijaksana. Selama ini Pemerintah sudah berbaik hati menyediakan fasilitas kesehatan sebesar Rumah Sakit yang ada. Seharusnya, masyarakat awam, miskin dan siapapun yang memanfaatkan fasilitas ini dapat memberikan apresiasi dengan sikap yang bijak pula. Namun sekali lagi, fakta di lapangan berbicara lain. Sikap dan mental masyarakat awam ini bukan hanya gelar belaka, sikap yang ditunjukkan juga banyak tidak memberikan dukungan yang baik terhadap layanan yang sudah didapat. Ingat, tidak semuanya seperti ini, beberapa dan banyak pula yang ‘berbicara’ di luar tentang hal-hal yang negatif. Attitude, sikap mental yang baik itu yang mereka tidak mampu tunjukkan. Terkadang malah membuat fasilitas yang ada menjadi lebih buruk dan kotor bahkan jorok. Ada tong sampah, di buang ke lantai yang bersih. Belum lagi asap rokok yang seolah menjadi ‘awan’ di saat jam bezuk, padahal larangan sudah terlihat jelas! Banyak lagi hal yang lainnya. Coba bandingkan saat anda berada di rumah sakit swasta apalagi yang bonafid dengan gedung bak hotel berbintang. Kita tak akan menemukan ‘kejadian’ semacam itu. Mungkinkah sikap orang berduit itu lebih baik…?

Bila kita melihat dan mengalami semua itu, masihkah kita menuntut lebih lagi dan mencap negatif rumah Sakit Pemerintah? Selayaknyalah sekarang, kita mencoba untuk introspeksi diri. Kenapa pula kita menuntut pelayanan yang lebih tinggi dan lebih…dan lebih dengan keterbatasan kemampuan ekonomi yang kita miliki…? Bukannya berarti kita mensyukuri dengan ‘rendahnya kualitas’ yang diberikan, namun kita mencoba untuk berusaha menjadi lebih baik. Bukankah kita juga melihat bahwa, Pemerintah semakin hari berusaha memperbaiki kekurangan yang ada. Bukankah itu perlu proses…? Tak mungkin semalam jadi atau dengan, orang bilang, membalikkan telapak tangan….

One Response to “RUMAH SAKIT PEMERINTAH (DALAM PERSFEKTIF YANG BERBEDA)”

  1. di negara2 maju rumah sakit pemerintah adalah rumah sakit yang paling maju, dengan pelayanan maksimal… terbalik dengan negara kita ini. Seharusnya ada perubahan mentalmodel mulai dari pengambil kenbijakan sampai pada pelaksana pelayanan di lapangan,hal yang kadang terlupakan adalah rumah sakit adalah pusat pelayanan, semua yang bekerja dan tersangkut dengan rumah sakit harus sipa melayani, itu adalah konsikuensi atas pilihan profesi di rumah sakit…

Leave a Response