function.getimagesize]: Filename cannot be empty in /home/acdiscoc/public_html/ammadis.web.id/wp-content/plugins/profile-pic/profile-pic.php on line 664
px;">

Posts by ammadis:

    SENIN YANG KELABU

    July 6th, 2009


    Waah, judulnya kali ini kayak judul lagu melakolis yaaa…(lebay….)

    ***************************

    Hari ini rasanya aku begitu kesal sekali. Kesal dengan kondisi yang menimpaku hari ini. Padahal semuanya nampak biasa saja hari ini, namun pas saatnya aku harus perlu cepat, ufh, kekesalan itu telah memperlambatnya tanpa di duga sama sekali.

    Motor yang biasa kupakai hari ini sudah kuisi dengan bensin full. Lega juga rasanya sesaat, karena kali ini tak harus mengantri lama untuk menunggu dapat giliran. Dan setengah hari tadi semuanya lancar-lancar saja.

    Tetapi ketika harus berangkat kerja, ban motor tiba-tiba kempes pas di simpangan lampu merah! Ukh, nekad saja bawa motor ban kempes untuk di bawa jalan. Untunglah tambal ban pinggir jalan tak jauh dari tempat kejadian perkara…(lho koq…?)

    Setelah sekitar 10 menitan menunggu, selesai dah! Terima Kasih Pak! Ternyata tambal ban motor pada malam hari lebih mahal daripada siang hari yaa…? (lha…masih untung ada tukang tambal ban ya, daripada motor nya thak gendong ke mana-mana…? hi…hi…hi…hi…)

    Tapi apa lagi yang terjadi teman-teman…? Belum lagi 10 menit tuh motor kunikmati sambil bersyukur tidak menjadi mbah Surip, lhaaa ban motor yang tadi juga kempes lagi!Alamaaak….! Ada apa lagi nih…? Benar, kempes lagi! Dan kali ini kempesnya tepat di depan tukang tambal ban pinggir jalan lainnya! Koq kebetulan sekali yaa…(aaakh, jangan huznuzzhon, is…!)

    Kali ini waktu yang diperlukan untuk menambal bocor ban yang baru lagi sedikit lebih lama. “Waah, ini perlu ban bekas nih buat melapisi pelang ban yang tajam, Pak!” Ohh, gitu yaaa...??? Terserah Pak, yang penting ni motor bisa jalan….Setelah kurang lebih 15 menitan, selesai juga..Alhamdulillah….

    Aaaakh, Senin kali ini begitu mengesalkan sekali rasanya! Mudahan saja ada hikmahnya…..

    No Comments "

    THE HONGKONG JOCKEY CLUB: Judi-Amal-Kehormatan

    July 2nd, 2009

    Hongkong.

    Negara kota yang kecil dengan puncak ekonomi kapitalis yang sungguh luar biasa. Kontrak 50 tahun dengan RRC selepas ‘jajahan’ Inggris merupakan waktu yang membuat warga Hongkong menjadi kebat kebit dengan ‘aturan’ China a la Komunis yang dianggap menghambat kemajuan warga Hongkong. Walau bagaimanapun Hongkong tetap menjadi bagian dari China.

    Menilik China, apalagi Hongkong, judi merupakan legal activity. berbagai macam bentuk permainan biasa bisa dijadikan alat untuk berjudi. Judi itu Hongkong. Hongkong itu judi. Namun dari sekian banyak perminan judi yang paling banyak melibatkan, hampir 80% warga Hongkong, adalah judi pacuan kuda. Judi ekslusif yang bisa di akses oleh semua kalangan warga Hongkong, terlebih warga elitnya.

    The Hongkong Jockey Club (Klub Joki) merupakan organisasi nirlaba yang mengelola semua aktivitas judi pacuan kuda ini. Meskipun nirlaba, organisasi yang beranggotakan orang-orang terhormat Hongkong ini mampu meraup ‘uang rakyat Hongkong’ ratusan milyar dollar per tahun-nya dari bisnis judi ini. Kemampuan Joki Klub merangkul pemerintah dalam banyak hal, justru membuat klub elite ini menjadi raksasa paling berkuasa dan berpengaruh di Hongkong. Semacam barometer kesuksesan personal untuk orang yang berhasil duduk dalam kepengurusannya.

    Yang unik dari Joki Klub adalah kemampuannya untuk ‘merayu‘ warga dalam berbagai kegiatan amal yang diberikan. Semuanya gratis! Dari sumbangan untuk berbagai panti sosial, sumber dana berbagai kegiatan sosial, sponsor utama pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, lembaga pemerintah dan swasta di Hongkong. Orang merasa terhormat dengan melibatkan Joki Klub dalam kegiatan mereka.

    Di Hongkong, judi merupakan sebuah investasi! Bisa juga merupakan sebuah peluang kerja untuk menjadi kaya bagi warga Hongkong. Hal inilah yang menjadikan Joki Klub seperti magnet bagi warga. Orang tak merasa bersalah apalagi berdosa apabila melakukan judi. Tak seperti di negeri kita kan…?

    Sumber : National Geographic Channel

    1 Comment "