KINERJA

kinerja,bekerjaSejenak aku menatap papan putih dengan tulisan spidol hitam. Sebuah papan pengumuman baru. Ada nama seorang kawan yang narsis di situ dengan sebuah ‘jabatan baru’. Kawan yang selama ini dianggap oleh teman-teman setempat kerja sebagai penjilat. Sebagai anti-teman kerja. Sebagai pengadu. Munafik. Berlidah manis tapi hati mendua. Dan entah, apalagi yang terlintas dalam pikiranku….

Sebuah pencapaian baru, kupikir. Sebuah trik yang telah berhasil membuat sang ‘bos’ merasa bahwa kawan adalah orang yang pantas untuk memiliki ‘jabatan baru’ dengan tanpa memperdulikan ‘arus bawah’ yang notabene bertolak belakang.

Apa yang salah dari sang kawan…? Secara objektif, seorang pekerja memanglah harus seperti dia. Nilai disiplin yang patut untuk di acungi jempol. Kinerja yang baik. cekatan dan responsif terhadap reaksi sang ‘bos’. Inilah yang kadang dipandang teman kerja yang lain sebagai nilai anti teman kerja. Apakah itu salah…? Mengambil hati sang ‘bos’ begitulah yang seharusnya dilakukan sang bawahan. Memberikan umpan balik terhadap reaksi sang ‘bos’ sekecil apapun. Bukankah itu baik…? Entahlah, karena sikap semacam itu jarang dipandang sebagai sebuah pengabdian yang tulus. Karena ada nilai yang ingin dipandang. Karena ada ‘sesuatu’ yang ingin di ‘ambil’ dari hubungan aksi – reaksi semacam itu. Karena pengabdian yang tulus, memang jarang ada di zaman yang serba duit seperti sekarang ini…? Coba ambil contoh konkret, sikap seorang pembantu rumah tangga dengan majikannya. Sikap dan santun yang nampak begitu kontras bisa dilihat. Seorang pembantu ‘wajib’ hormat dan bersikap merendah terhadap majikannya. Karena apa…? Karena sang majikan memberi dia pekerjaan. Duit. Jadi, sikap dan santun seperti pembantu bisa dibeli dengan duit. Namun, pengandaian semacam itu terlalu sarkasm untuk memberikan analogi terhadap sang kawan. Ada nilai lebih yang dipandang daripada sekedar duit. Duit yang berbeda. Duit yang jauh lebih berharga dengan label penghargaan yang jauh lebih berarti. Kepuasan.

Akhirnya sang kawan tersenyum. Aku pun mengucapkan selamat. Mudahan jabatan itu membuatnya semakin berkinerja. Memang jabatan dalam pekerjaan sekarang ini, orang memandangnya dari sudut pandang kinerja, setidaknya begitulah yang kudapat dari beberapa pernyataan dari sang bos tentang sang kawan.

Kenapa bukan dia yang terpilih…? Atau si Anu yang lebih senior. Atau si Anu yang lebih rajin…atau si anu…Pertanyaan semacam itu pasti pernah singgah di benak pikiranku dan kawan-kawan kerja yang lain. Pertanyaan yang lugu. Pertanyaan yang tak mampu memberikan ‘suara keras’ terhadap keputusan sang ‘bos’. Sang kawan, bersikap seperti itu karena memang takdirnya begitu. Jalan hidupnya terlihat jauh lebih beruntung. Pencapaian hasil kerja yang berasal dari kinerja yang nampak. Aku salut. Aku sangat menghargai itu. Dan kawan-kawan lainpun mengakui itu. Namun dibalik itu semua, terlepas dari sikap lainnya yang tak bisa diterima sebagai teman sekerja, senasib, apa yang telah didapatnya bukanlah apa yang diinginkan arus bawah yang telah beredar dan merasuk pikiran yang terbanyak. Karena kinerja bukanlah arus kelompok tertentu. Sikap dan santun, kadang kita tak tahu sikap lain yang tersembunyi, wajarlah menjadi barometer yang pantas untuk menjadi rekomendasi sang ‘bos’ dalam memberikan nilai kepuasan sang pekerja kepada sang kawan.

PELAYANAN KESEHATAN : ANTARA MORAL DAN KEPENTINGAN LAIN

Dunia kesehatan di Indonesia semakin hari semakin ramai. Begitu banyak polemik baru yang mucul, mulai dari soal pejabat tertingginya sampai ke soal penyakit menular yang seringkali jadi momok yang juga terkadang tak pernah tuntas untuk penyelesainnya, atau mungkin tersendat. Belum lagi soal personaliti yang terlibat di dalamnya, seperti dokter dan perawat yang sering mendapat komplain dari pasiennya.
Kemarin, sewaktu berbicara di antara sesama teman di tempat kerja, mucul sebuah uneg-uneg yang mungkin saja bisa dialami oleh banyak orang yang hidup di negeri penuh tragedi ini.  Kira-kira seperti ini maksudnya: susahnya sekarang berobat ke Rumah Sakit Pemerintah, apalagi kalau memakai surat sakti (Surat Keterangan Tidak Mampu, sekarang dikenal dengan istilah JAMKESMAS, Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin). Pelayanan yang dimaksud adalah perawatan melahirkan yang mengalami penyulit / disertai dengan penyakit tertentu dan butuh penanganan Dokter Spesialis Kebidanan dan Ginekologi, dengan memakai surat JAMKESMAS itu. Kalau mau konsul saja, harus menunggu lama dan belum tentu Dokter Spesialisnya mau datang memeriksa. Mimpi! Begitulah maksudnya. Lain kalau pasiennya termasuk dalam kelas atau VIP. Seolah Dokter Spesialisnya ada di samping kamar pasien…

Kalau mau merunut sumpah dokter dan visi misi Rumah Sakit, sungguh indah terdengar! Rasanya damai dan aman ! Tapi kenyataannya, sungguh…semua orang tahu, betapa susahnya mendapatkan konsep pelayanan kesehatan yang seharusnya seperti itu. Terdengar skeptis. Mungkin ya. Mungkin juga tidak, tergantung dari sudut pandang personal. Namun secara generally, seperti itu. Kecewa jadi orang miskin? Atau kecewa dengan pelayanan kesehatan yang ada…?
Banyak kontradiksi yang ada. Banyak hal yang tak seharusnya dipahami dari sudut pandang sempit. Namun seringkali mutu pelayanan yang ada selalu terkait dengan duit dan dan moral. Jujur…? Tak pelak lagi, bila orang berpendapat ada duit segalanya jadi enak. memang begitu adanya. Moral…? Tanyakan pada diri sendiri…? Atau perlu perbaikan moral dokter yang ada…? Bicara moral…? Sangat skeptis bila di tanyakan pada mereka. Sibuk! Banyak pasien! Under pressure…?
Kalau ada dokter yang mau ‘bermoral‘ dalam sebuah lingkungan Pelayanan Kesehatan, lihat saja, umurnya tak akan lama bertahan di situ! Terpental lah dia ke sudut-sudut ruang yang tak nyaman untuk berbicara apalagi bertindak atas nama moral! Sementara dia sendiri perlu makan untuk dia dan keluarga tercinta. Terseret dalam arus anti-moral yang terlanjur biasa. Biasa menolak. Biasa saling menghindari kerja atas nama moral. Biasa untuk menilai pelayanan ‘moral‘ dengan nilai-nilai hedonism. Akh…